Tampilkan postingan dengan label Anak. Rajin Sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Rajin Sholat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

"8 Langkah Mendidik Anak Agar Ia Rajin Shalat"

Umar bin Khattab mengungkapkan : hak anak yang harus dipenuhi ayahnya itu ada 3, yaitu memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang baik, dan mengajarkan Al Quran. Dan dalam Al Quran perintah shalat banyak sekali. Itulah mengapa mengajarkan shalat pada anak harus jadi prioritas utama setiap ayah.
Masalahnya, bagaimanakah cara terbaik mengajarkan shalat pada anak? Tentu Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam yang punya jawaban terbaik. Berikut ini langkah-langkah yang Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam lakukan untuk mendidik anak agar rajin shalat.

#1 Menjadi teladan kedispilinan shalat

Sejak usia masih sangat dini, anak sudah begitu lekat memperhatikan seluruh perilaku orangtuanya. Begitulah otaknya bekerja di usia tersebut : mengamati dan meniru. Dan anak adalah peniru yang sangat ulung. Maka saat ia menyaksikan sang Ayah selalu melakukan sesuatu yang sama sekian kali dalam sehari, secara alami anak akan tergerak untuk meniru.
Para Ayah pasti sudah pernah melihat bagaimana anak usia dua atau tiga tahun mulai berdiri, membungkuk, lalu duduk menungging untuk meniru gerakan shalat ayahnya. Ini sebuah pemandangan dan pengalaman yang sangat indah :)

#2 Mulai mengajak anak untuk shalat

Kapankah mulai mengajak anak untuk shalat? Abdullah bin Habib menyampaikan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda,
“Apabila  seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat.” (HR Ath-Thabari)
Anak bisa membedakan kanan dan kiri menandakan otaknya sudah cukup berkembang. Pada masa ini, anak sudah mampu mengerti bahwa ibadah itu untuk mendekatkan diri dengan Rabb-nya.

#3 Mengajarkan anak tentang shalat saat usia 7 tahun

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)
Dalam Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid mengungkapkan kalau pada usia 7 tahun ini adalah masa dimulainya pelajaran shalat. Dalam praktiknya pada usia ini, kedua orang tua mulai mengajarkan rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajiban shalat, dan pembatal-pembatal shalat.

#4 Mulai menghukum anak jika ia lalai saat usia 10 tahun

Tahapan ini dimulai pada usia 10 tahun, beberapa tahun sebelum anak baligh. Sesuai kelanjutan dari hadits riwayat Abu Dawud dan al Hakim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash sebelumnya,
Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka untuk shalat pada usia 10 tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.
Syaikh Ad-Dahlawi mengomentari hadits tersebut dengan mengatakan,
Balighnya seorang anak dicapai dari dua sisi, sampai pada tingkatan kesehatan jiwa. Hal ini terealisasi hanya dengan akal saja.
Tanda kemampuan menggunakan akal dimulai dari usia 7 tahun. Anak yang sudah mencapai usia 7 tahun, pasti pindah ke tingkatan ini secara bertahap, sedikit demi sedikit, tapi pasti.
Kemudian tanda kesempurnaannya pada usia 10 tahun. Anak yang sudah berusia 10 tahun, selama pertumbuhannya wajar, maka dia dianggap telah berakal; dapat membedakan mana yang memberi manfaat dan mana yang mengundang bahaya.
Bisa memahami perbedaan hal-hal yang memberi manfaat dan mengundang bahaya itu sangat penting untuk memahami pentingnya shalat. Shalat itu penghubung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Meninggalkan shalat bisa menenggelamkan seseorang ke azab akhirat kelak. Melaksanakannya akan mendekatkannya ke surga.
Oleh karena itu, pertanda seorang ayah cinta pada anaknya adalah memastikan kalau anaknya menjalankan kewajiban shalat saat anaknya baligh. Tahapan menghukum jika anak lalai dalam shalat tentunya diperlukan agar anak benar-benar memahami hal ini baik secara sadar maupun di alam bawah sadarnya.
Tentu perlu ada komunikasi untuk memahamkan anak mengapa ayahnya menghukum saat anaknya lalai shalat. Dalam Fatherhood Forum I, Adriano Rusfi menceritakan bagaimana ia menerapkan hukuman saat anaknya meninggalkan shalat (baca: 2 Cara Seorang Ayah Mengajarkan Kejujuran pada Anaknya).

#5 Melatih anak untuk ikut shalat Jumat

Shalat Jumat itu wajib kecuali bagi yang sedang sakit, dalam perjalanan, wanita, anak keci, dan budak. Imam al Kasani mengungkapkan kalau shalat Jumat bagi anak kecil hukumnya sunnah.
Ada beberapa manfaat melatih anak laki-laki shalat Jumat, di antaranya:
  1. Kalau sudah baligh, dia terbiasa melakukannya
  2. Melatih anak mendengarkan ilmu saat khutbah Jumat. Carilah masjid yang khatibnya bagus dalam memberi materi sekaligus tidak terlalu lama karena rentang konsentrasi anak-anak umumnya lebih pendek dari orang dewasa
  3. Merasakan bagaimana membaur dengan masyarakat. Anak harus terbiasa berkumpul dengan kaum muslimin dan mengenal teman-teman ayahnya
  4. Jadi asupan keimanan untuk mendirikan shalat 5 waktu antara shalat Jumat dan shalat Jumat lainnya
  5. Anak mengenal ulama dan dai sejak kecil
  6. Anak mendapat pembentukan kepribadian secara menyeluruh untuk menjadi lelaki dewasa

#6 Melatih anak untuk shalat malam


Ibnu Abbas menceritakan masa kecilnya,
Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah, agar aku dapat memperhatikan bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam mengerjakan shalat. Beliau berdiri shalat. Aku datang dan berdiri di samping kiri beliau. Beliau menarikku  dan meletakkanku di samping kanan beliau. (HR Muslim)
Cerita masa kecil Ibnu Abbas ini mengungkapkan betapa Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam perhatian terhadap shalat anak-anak, sampai-sampai beliau memperbaiki kesalahannya. Latihan shalat malam perlu dilakukan agar saat baligh anak sudah terbiasa memohon pada Allah di waktu yang lebih dikabulkan doa-doa oleh Allah, yaitu sepertiga malam terakhir.

#7 Membiasakan anak melakukan shalat istikharah

Pada saat Anas bin Malik masih kecil, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam memberikan nasihat, “Wahai Anas, apabila engkau merasa bimbang tentang suatu masalah, maka mintalah pendapat (shalat istikharah) kepada Rabbmu sebanyak 7 kali. Kemudian lihat apa yang terlintas di hatimu. Sebab, di sanalah ada kebaikan.

 

#8 Mengajak anak ke masjid

Jabir bin Samurah menceritakan masa kecilnya bersama Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam,
Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa Sallam. Kemudian, beliau pulang. Aku menyusul di belakang beliau. Beliau bertemu dengan anak-anak lalu mengusap kedua  pipi mereka satu per satu. Ketika beliau mengusap kedua pipiku, aku rasakan tangan beliau dingin dan berbau harum, seakan-akan baru dikeluarkan dari botol parfum. (HR Muslim)
Lalu kapankah sebaiknya orang tua mulai mengajak anak shalat di masjid?
Imam Malik berpendapat,
Apabila anak sudah mengerti dan mengetahui tentang adab serta tidak main-main, maka saya rasa tidak apa-apa. Apabila masih terlalu kecil dan tidak dapat tenang serta masih suka bermain-main, maka aku tidak menganjurkannya.
Selamat mempraktikkan di rumah. Dengan anak yang rajin shalat, akan ada banyak kebaikan dan ketenangan di rumah Ayah. Dan tentu Insya Allah ketenangan di akhirat kelak.

http://fatherhood.id/8-langkah-mendidik-anak-agar-jadi-rajin-shalat/

"Cara Mengajarkan Shalat kepada Anak"


Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa melakukan syari’at ketika telah dewasa.Apabila syari’at memerintahkan para orang tua dan wali agar memerintah anak-anak mereka untuk menunaikan sholat, maka wajib bagi orang tua dan para murobbi untuk mengajarkan kepada mereka perihal thoharoh sesuai dengan thoharohnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, menjelaskan kepada mereka sifat wudhu Nabi shalallahu alaihi wassalam, syarat sah, rukun-rukunnya dan hal-hal yang membatalkannya.
Demikian pula harus mengajarkan tata cara sholat sesuai degan sholat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena sabda beliau:
“Tunaikanlah sholat seperti kalian melihat aku sholat”.1
Hendaknya anak diajari teori sekaligus praktiknya dengan diajak memperhatikan tata cara berwudhu dan sholat bapak ibunya atau mengajaknya melakukan sholat dan berdiri di samping orang tuanya untuk mengambil secara langsung tata cara sholat yang benar.
Ini mengingatkan orang tua, para murobbi dan para guru TK dan SD agar mengajarkan do’a dan dzikir-dzikir dalam wudhu dan sholat sebelum yang lainnya. Hal ini perlu kita perhatikan sebab sebagian guru ada yang lebih mendahulukan do’a dan dzikir yang lain, seperti do’a berpakaian atau yang lainnya, daripada do’a dan dzikir dalam wudhu dan sholat.
Sistem pengajaran seperti itu tentu salah bila ditinjau dari sisi ini, sebab syari’at belum memerintahkannya. Dan jikalau anak mengamalkannya pun tidak terlalu berarti bila dibandingkan dengan do’a dalam wudhu dan sholat yang dituntut untuk dihafal dan diamalkan setelah mencapai usia 7 tahun, sebagaimana anjuran Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Bila bisa didapat kedua-duanya tentu lebih baik.

POKOK – POKOK PENGAJARAN SHOLAT
Pokok-pokok pengajaran yang harus diberikan kepada anak berkaitan dengan masalah sholat adalah sebagai berikut:
-Ilmu tentang syarat sahnya sholat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya.
-Tata cara pelaksanaanya dari takbirotul ihrom hingga salam, meliputi gerakan-gerakannya, bacaan dan dzikir-dzikirnya, jumlah gerakan atau jumlah bacaan dan dzikir.
-Sifat-sifat gerakan, seperti sifat tangan atau jari-jari tangan ketika takbirotul ihrom atau ketika posisi yang lainnya, apakah dengan menggenggam jari-jari atau dengan membuka dan rapat, ataukah membuka dengan merenggangkan jari-jari lurus ke atas atau melengkung ke bawah.
-Sifat bacaannya, antara yang sir dan yang jahr, juga panjang pendeknya suatu gerakan dan bacaan, seperti gerakan tangan ketika takbirotul ihrom apakah perlahan-lahan hingga beberapa menit baru sampai ke bahu dan daun telinga ataukah bagaimana. Demikian juga dengan bacaan-bacaannya, misalnya apakah melafazhkan takbir dengan bacaan panjang seperti “Allooooohuuuuu Akbaaaaar” ataukah tidak.
-Mengajarkan yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan meninggalkan yang tidak shohih.
-Mengajarkan nama-nama sholat dan waktu-waktunya serta bilangan roka’atnya.
-Mengajarkan tata cara berpakaian yang wajar di dalam sholat.
-Menanamkan akidah ( keyakinan ) bahwa orang yang sholat itu sedang menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, apabila kita menghadap kepala desa atau orang kaya saja tidak boleh bermain-main, tentunya menghadap Alloh, Sang Penguasa langit dan bumi dan seluruh alam semesta, lebih sangat tidak layak untuk bermain-main.
-Mengajarkan syarat syahnya sholat yang paling utama, yaitu thoharoh dan berwudhu, hal ini meliputi:
a. Tata cara membersihkan najis tinja dan kencing sehingga benar-benar suci dan tidak membawa najis dalam sholat. Mengenalkan kepada mereka benda-benda yang najis agar mereka jauhi, terutama ketika sholat.
b. Mengajarkan tata cara berwudhu, dzikir sebelum dan sesudahnya, tata cara penggunaan air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tidak boleh boros sekalipun banyak air, urut-urutannya dan bilangan-bilangannya.
c.  Tata cara membasuh, apakah membasuh dengan menyiramkan air ataukah cukup dengan mengusap tanpa menyiramkan air. Juga menjelaskan tentang sifat membasuh dan mengusap.
d. Mengajarkan kepada mereka anggota-anggota wudhu dan hal-hal yang berkaitan dengannya, apakah yang penting anggota wudhu tersebut terkena air sehingga cukup dicelupkan ke dalam air ataukah harus diusap da diratakan dengan tangan.
e.  Mengajarkan kepada mereka batas-baras anggota wudhu, dari mana hingga ke mana.
f.  Mengajarkan kepada mereka tata cara adzan dan iqomat, lafazh-lafazhnya dan bagaimana menjawab jika mendengar adzan dan do’a sesudah adzan bagi yang mendengar. Juga tentang tata cara melafazhkannya, yaitu tidak boleh berlebihan dengan memanjangkan lafazh yang seharusnya pendek atau sebaliknya, atau lafazh yang panjang dilebihkan dari kadarnya sehingga terlalu panjang, atau dengan merusak lafazah, seperti “Allohu Akbar” menjadi “Aulohuu Akbaruu”.
g. Mengajarkan kepada mereka tentang batas-batas aurat dalam sholat, sebab aurat itu ada 2: aurat yang berkaitan dengan pandangan mata dan aurat yang berkaitan dengan hak Alloh. Atau dengan istilah lain, berbeda antara aurat di luar sholat dengan aurat di dalam sholat. Contoh, anak kecil yang belum baligh tidak ada auratnya sehubungan dengan pandangan mata, meski begitu ia tidak boleh menunaikan sholat dalam keadaan telanjang. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan sholat dengan mengenakan satu pakaian saja, yang ( dengan begitu ) kedua pundaknya tidak tertutup”.2
Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lainnya:
“Alloh tidak menerima sholat wanita yang telah baligh kecuali dengan penutup kepala”.3
PENTINGNYA KETELADANAN
Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak daripada hanya teori semata. Karena itulah hendaknya para murobbi tidak lalai dari manhaj ta’lim ( metode pengajaran ) ini sebab inilah yang dicontohkan Nabi shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya.
Suatu ketika, Ustman bin Affan radiyallahu anhu meminta air wudhu dan mengajak para sahabat untuk memperhatikan cara wudhu beliau dari awal hingga akhir lalu berkata, “Seperti inilah aku melihat Nabi shalallahu alaihi wassalam berwudhu”.

Dalam kisah yang lain, salah seorang sahabat pernah mempraktikkan sholat dari awal hingga akhir dihadapan para sahabat yang lain, seraya mengatakan, “Kemarilah kalian! Akan aku perlihatkan kepada kalian sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam”.
Rosulullah shalallahu alaihi wassalam terkadang juga melakukan sholat ( sebagai imam ) dengan berdiri dan ruku’ diatas mimbar untuk memperlihatkan sholatnya kepada para sahabat, beliau mengatakan, “Aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui sholatku”.
Contoh metode pengajaran seperti ini sangat sering diterapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya. Demikian itu karena teori semata sulit untuk dipahami dan membutuhkan waktu yang lama bahkan mudah terlupakan, berbeda dengan apa yang dialami dan dilihat secara langsung. Ini berarti orang tua dan para pendidik tidak cukup hanya menyediakan buku-buku bacaan seputar wudhu dan sholat atau hanya memerintahkan anak untuk melakukan sholat, namun mereka juga dituntut untuk memberikan keteladanan berupa praktik amali di hadapan anak-anak mereka seperti yang dicontohkan Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebaik-baik pendidik, dan para sahabat beliau.
MENGAJARKAN SHOLAT YANG BENAR
Para pendidik dan orang tua harus  mengajarkan sholat yang benar kepada anak-anak mereka. Sholat yang benar artinya sholat yang sesuai dengan sholat Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebagaimana sabda beliau diatas. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengajaran, para pendidik harus memiliki ilmu tentang sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam dan tidak cukup dengan mengikuti sholat kebanyakan orang zaman sekarang, sebab diantara mereka masih banyak yang melakukan bid’ah dalam sholat, baik dengan mengurangi atau menambahi sebagaian dari sholat mereka yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam. Padahal sholat merupakan amal yang paling utama yang pelakunya sangat berharap agar sholatnya bisa diterima oleh Alloh, sementara Alloh tidak akan menerima sebuah amal kecuali yang ikhlas karena Alloh semata dan sesuai dengan sunnah ( petunjuk / contoh ) dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam.

TIDAK MENDIAMKAN KESALAHAN
Sebagian orang beranggapan bahwa tidak mengapa membiarkan anak sholat dalam keadaan tidak benar, toh juga masih anak-anak, misalnya membiarkan anak sholat tanpa berwudhu atau berwudhu hanya dengan membasuh telapak tangan, wajah dan kaki saja dengan alasan bahwa anak masih kecil dan belum baligh. Anggapan ini jelas salah. Perlu diketahui bahwa meskipun hukum-hukum syari’at belum berlaku bagi anak, namun Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan dan memberi beban kepada para wali untuk memberlakukan hukum-hukum syari’at kepada anak-anak mereka. Anggapan yang salah ini jelas bertentangan dengan perintah Rosululloh shalallahu alaihi wassalam:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan sholat ketika mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka telah berusia 10 tahun”.4
Maksud dari perintah Rosululloh tersebut adalah agar para orang tua menyuruh anak-anaknya untuk thoharoh dan berwudhu dengan sempurna, berpakaian menutup aurat dan pundak, berdiri menghadap kiblat, di tempat yang tidak haram untuk sholat di dalamnya, melakukan tata cara sholat dari takbirotul ihrom hingga salam lengkap dengan rukun-rukunnya, fardhu dan sunnah-sunnahnya.
Rosululloh pernah melakukan sholat malam, lalu Abdulloh bin Abbas datang mengikuti dan berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau shalallahu alaihi wassalam memutarnya dari arah kiri lewat belakang kea rah kanan beliau5
Pernah salah seorang Arab Badui datang ke masjid lalu melakukan sholat. Setelah selesai dari sholatnya, Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengatakan,
“Ulangi sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat”. Maka orang tersebut mengulangi sholatnya seperti sholatnya yang semula hingga 3 kali, sampai akhirnya orang itu berkata, “Wahai Rosululloh, ajarilah aku sholat, sebab aku tidak bisa sholat kecuali dengan cara yang seperti ini ( yakni sholat dengan gerakan yang sangat cepat, tanpa thuma’ninah ). Maka Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengajarinya sholat seraya menyampaikan bahwa wajib baginya untuk thuma’ninah pada setiap gerakan sholat.
Rosululloh shalallahu alaihi wassalam menganggap sholat orang ini batal karena meninggalkan salah satu rukun sholat, yaitu thuma’ninah. Sholat yang dianggap batal oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam yang dilakukan oleh orang ini banyak sekali dilakukan oleh anak-anak.6 Sehingga kewajiban para orang tua dan para pendidik adalah membenarkan sholat mereka yang masih salah ini.

Catatan kaki:
  1. HR. Bukhari 6008 [↩]
  2. HR. Bukhari 359 dan Muslim 516 [↩]
  3. Shohih Abu Dawud 641 dan Tirmidzi 377 [↩]
  4. Shohih Abu Dawud 495 [↩]
  5. lihat Shohih Bukhori 117 dan Shohih Muslim 1824 [↩]
  6. Sayangnya sholat seperti ini-yaitu cepat dan tidak thuma’ninah-juga banyak dilakukan oleh sebagian saudara kita kaum muslimin yang sudah dewasa sekalipun. Semoga Alloh menunjuki mereka dan kita semua ke jalan sunnah [↩]
Sumber
 http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/

Mengajarkan Shalat Sejak Dini


Mempunyai putra putri yang saleh dan saleha adalah cita-cita yang dimiliki oleh semua orangtua muslim. Kesuksesan anak-anaknya harus diraih dunia dan akherat. Akherat adalah hal yang utama karena dunia pasti akan mengikuti.

Seorang anak yang mereka cita-citakan adalah anak yang saleh. Sehingga dapat mengangkat derajat orangtuanya di hadapan Allah SWT dan dapat menyelamatkan orangtuanya di akherat nanti dengan doa-doanya. Jikalau di dunia mereka meraih jabatan atau pekerjaan yang baik, mereka adalah orang-orang yang berakhlak Islam. Melakukan pekerjaanya semata-mata untuk mencari Ridho-Nya dan takut hanya kepada Allah saja. Seorang anak yang mempunyai kesadaran bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Meskipun begitu, kesadaran akan Islam tidaklah mudah diterapkan dalam mendidik anak di rumah. Banyak kendala yang dialami oleh sebagian besar orangtua untuk mendidik anak-anak agar menjadi anak yang saleh. Harus memulai dari usia berapa dan dengan cara apa ?

Salah satu contoh saja, dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan anak mempraktekkan ibadah rutin yaitu shalat. Dengan menjalankan shalat lima waktu, orangtua bisa mengajarkan kedisiplinan dan melatih kesabaran kepada anak.

Umur berapakah anak diajarkan shalat? Banyak orang tua beranggapan mengajarkan shalat anak tidak perlu terburu-buru. Saat mereka sudah menginjak dewasa, akan lebih mudah untuk menyuruhnya.

Tapi tahukah, Anda? Mengajarkan apa pun lebih baik dilakukan sedini mungkin. Selain sebagai pembiasaan juga agar anak lebih mudah diberi pengertian saat dia mencapai umur yang sesuai dengan wajibnya shalat.

Tidak perlu memaksa dengan ancaman. Kita mengajarkan kewajiban shalat kepada anak dengan cara yang sudah ada dalam Al-Qur’an. Bukankah berdakwah atau menyampaikan ajaran Islam sudah dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya...

Dalam Firman Allah SWT :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik...” (Q.S. An-Nahl:125)

Mengajarkan anak pun tidak harus dengan kekerasan atau dengan cara memberi iming-iming hadiah. Boleh sekali-kali memberi mereka hadiah, akan tetapi saat mereka selesai melakukan perbuatan baik. Sedangkan pujian wajib kita berikan utuk apa pun perbuatan baik yang selesai mereka lakukan.

Hadiah bukan diberikan sebagai iming-iming atau imbalan yang akan mereka dapat jika berbuat baik. Agar saat mereka melakukan perbuatan baiknya bukan karena hadiah yang akan mereka dapat tetapi karena mendapatkan penghargaan dari apa yang sudah dilakukannya.

Tidak perlu menyuruh anak melakukan ibadah shalat dengan sempurna terlebih dahulu. Kita ajarkan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan dan usia mereka. Sedari usia dini, anak kita perlihatkan bagaimana Ayah Ibunya melakukan shalat dengan menyertakan anak dalam setiap kegiatan shalat. Jika mereka masih bayi, kita sandingkan dengan tempat shalat. Jika sudah mampu berdiri bisa diajarkan pelan-pelan. Jangan merasa terganggu dengan ulah mereka. Karena Rasulullah SAW saja, tidak marah dan merasa terganggu shalatnya saat cucunya Husain naik ke punggung beliau. Beliau menunggu sampai Husain selesai bermain dan turun dari punggungnya. Lalu Beliau meneruskan kembali shalatnya. Jangan memarahi anak saat mereka tidak khusu’ dan tertawa-tawa pada saat shalat. Selalu memberi pengertian dengan baik tentang adab shalat. Disiplinkan lima waktu, jika mereka belum mampu tepat waktu jangan dipaksakan. Meskipun shalat subuh bisa mereka lakukan pukul 06.00 pagi, beri mereka pujian dan menasehatkan agar lain kali bisa bangun lebih pagi. Masalah bacaan shalat, bisa diberikan pada saat-saat bermain atau sebelum tidur secara rutin dengan membaca bersama-sama.

Mengajarkan kepada anak akan lebih mudah jika dengan hikmah atau mencontohkan terlebih dahulu. Orangtua adalah figur pertama yang akan ditiru oleh anak. Jika sebagai orangtua gagal mencontohkan yang baik, maka jangan berharap anak kita akan menjadi baik.

Banyak dari orangtua mengambil praktisnya saja. Anak-anak diserahkan kepada pondok atau sekolah-sekolah berbasis Islam dengan harapan anaknya akan menjadi anak yang saleh secara instan. Mereka tidak sadar, dengan menyekolahkan anak atau menyerahkan pada sebuah pondok, bukan jaminan akan berhasil membentuk kepribadian Islam pada anak tanpa adanya contoh dari orang tua. Jika orangtuanya tidak melakukan perbaikan akhlak dan ibadahnya, bagaimana mereka akan mengajak maupun mengoreksi akhlak dan ibadah anak. Anak bisa saja baik saat di sekolah atau di pondok, akan tetapi saat pulang dan menemui orangtuanya, ternyata aklak dan ibadah orang tua tidak lebih baik dari anak. Sholat subuh yang biasanya dilakukan secara tepat waktu di pondok, ternyata orang tua dirumah dalam melaksanakan sering kesiangan, selain protes mereka pada akhirnya akan meniru perbuatan yang dilakukan oleh orangtuanya. Seringkali keinginan orang tua agar putra putri yang saleh dan saleha tidak seiring dengan perbuatan yang harus mereka lakukan, orangtua hanya mau memakai paradigma kapitalis, “asal saya bisa bayar, saya akan minta ustadz atau ustadzah untuk mengajari ” tanpa berusaha untuk memperbaiki akhlak dan ibadahnya sebagai orang tua. Mereka lupa mengajarkan akhlak dan ibadah tidak bisa dengan menggunakan teknik pengajaran ilmu sains, pengajar dan pakar dipanggil lalu yang diajari bisa menyerap ilmu mereka sampai pandai. Ayah dan ibu tidak akan diprotes anak, gara-gara anak telah menjadi ahli nuklir sedangkan ayah dan ibunya masih seorang petani, tetapi mereka akan protes ketika anak telah memahami dan mengerjakan shalat dengan baik, sedangkan ayah dan ibunya tidak pernah shalat.

Contoh sederhana lainnya adalah saat ibu tidak melakukan shalat karena berhalangan, apa yang akan dikatakan. Menerangkan secara benar akan membuat seorang anak kebingungan karena akal mereka belum bisa menangkap. Berbohong, adalah cara yang mudah, akan tetapi fatal akibatnya. Karena saat anak sudah mengerti, ia akan menganggap berbohong diperbolehkan dan menirunya. Kita sebagai orangtua harus memahamkan dengan benar tapi disesuaikan dengan umur mereka dan sebatas apa yang dia pahami. Terkadang, kita cukup memberi alasan kalau seorang ibu atau wanita dewasa adalah makhluk Allah yang sedikit istimewa. Sehingga Allah memberi sedikit kelonggaran dalam melakukan shalat. Jika jawaban tersebut dia terima, tidak perlu kita menerangkan secara panjang lebar atau bahkan secara ilmiah agar mereka paham. Akan tetapi, jika alasan tersebut belum menjawab pertanyaan, PR bagi orangtua untuk menjelaskan jawaban yang lebih masuk akal sesuai dengan kapasitas dia sebagai seorang anak.

Memiliki anak yang cerdas dan kritis akan memberikan cerita yang lebih seru lagi saat mengajarkan ibadah shalat ini. Akan ada banyak pertanyaan dan bantahan dikeluarkan hanya untuk melakukan ibadah shalat.

Biasanya memberikan pengertian tentang pentingnya shalat dan manfaatnya lebih efektif jika bisa kita jadikan sebagai cerita yang menarik untuk mereka. Dan jangan memberikan seketika saat anak membantah perintah kita. Akan lebih baik cerita-cerita itu dimasukkan di sela-sela kegiatan santai atau saat menjelang tidur. Karena anak akan lebih merasa nyaman saat kita bercerita akan pentingnya ibadah shalat.

Kalaupun anak senang membantah, bisa kita ajak dengan cara diskusi. Akan tetapi sesuaikan dengan usia anak-anak kita. Dengan bahasa yang mereka mengerti dan contoh-contoh yang mudah pula

 Sumber
 http://www.kompasiana.com/nunuk_cita/mengajarkan-shalat-sejak-dini_54f82fcfa333111c5f8b467d

Rabu, 30 September 2015

"LAKUKAN OPTIMAL , Usiaku hanya satu hari ini."

Jika Anda terbangun hari di pagi hari, maka janganlah lagi

Anda menanti sore segera menjelang. Hari ini Anda akan hidup, hanya hari ini. Tidak ada hari kemarin yang telah pergi bersama suka dukanya. Tidak ada hari esok yang sampai saat ini belum kunjung datang. Matahari hari inilah yang kini menaungi Anda. Hari ini adalah hari Anda, HANYA HARI INI. Usia Anda hanya satu hari ini. Tumbuhkan semangat hidup dalam jiwa Anda hanya untuk hari ini. Berfikirlah bahwa Anda lahir hari ini dan mati hari ini juga.

Dengan jalan seperti itu, hidup Anda tidak akan gagap untuk meraba antara kecemasan, kesedihan, dan duka masa lalu dengan khayalan masa depan, lengkap dengan potret suramnya yang mengerikan serta segudang problematika hidup yang siap menerkam Anda.
Untuk satu hari ini saja, curahkan konsentrasi, perhatian, prestasi terbaik , kerja keras dan kesungguhan Anda. Hanya untuk hari ini saja Anda harus siap melaksanakan ibadah shalat dengan khusyu, bacaan Al Qur’an, zikir dan amalan-amalan dengan sepenuh kehadiran hati. (Aidh Al Qarni)