Senin, 22 September 2014

Kucinta Indonesia "R A Kartini"

Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, judul buku yang merupakan kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini .
Surat-surat tersebut dikirim kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda. Sebagai bukti tekad yang luar biasa. Kartini berjuang melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi pedorong semangat wanita Indonesia memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini nyata dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya Kartini puteri Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir, bertumbuh dan berkembang di berbagai pelosok negeri. Berkat perjuangan beliau wanita Indonesia maju setara pria.

Bagaimana Wanita di era akhir abad 19 sampai awal abad 20 ?
Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan berpendidikan setinggi pria. Bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Selain itu mereka juga diperlakukan berbeda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria. Juga melihat kebebasan wanita Belanda membulatkan tekad, tumbuh keinginan untuk mengubah kebiasan menjadi lebih baik dan maju.

Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Namun sebagaimana kebiasaan saat itu Kartini tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Kartini hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya.
Seorang wanita yang telah tamat sekolah di tingkat sekolah dasar maka gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa. Kartini mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita bangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Hati Kartini sedih ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Lebih pilu hati Kartini melihat kaumnya. Karena anak dari keluarga biasa tidak akan pernah bersekolah sama sekali.

Sejak saat itu, Kartini berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia melalui pendidikan. Kartini segera mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, di Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, Kartini sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah Kartini masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Alangkah bahagianya Kartini karena ternyata usahanya kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Beliau mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, Beliau sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda Kartini sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku itu sangat berpengaruh besar mendorong kemajuan wanita Indonesia. Karena isi tulisan tersebut menjadi sumber motivasi perjuangan kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

RA Kartini sangat besar jasanya bagi kebangkitan bangsa Indonesia. Kartini meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara dan pemerintah; Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan tanggal Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964,2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia. Beliau juga tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruan; Beliau telah berjuang untuk kepentingan bangsanya.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Ide-ide besar Kartini mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, Beliau mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Kedudukan kaum wanita Indonesia telah lebih baik berkat adanya persamaan hak.
namun perjuangan Kartini-Kartini di era globalisasi belum berakhir.
Sebab masih dirasakan adanya perlakuan ketidakadilan terhadap perempuan.

Bagaimana Perjuangan Kartini Di Era Globalisasi ?

"Mari kita berupaya melanjutkan cita-cita Kartini, majukan dan sejahterakan rakyat Indonesia"
sesuai bidang kita masing-masing.
Sumber dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar