Kamis, 11 Desember 2014

Hikmah Dibalik Tertundanya Doa





Syahida.com – Salah satu hal yang terlihat amat mengherankan adalah seorang mukmin berdoa tapi doanya tak dikabulkan. Ia tetap berdoa dan terus berdoa. Namun, ternyata ia harus tetap menanti pengabulannya dalam waktu yang cukup lama, bahkan ia tak melihat satu pun tanda akan adanya pengabulan!
Dalam kondisi seperti itu seorang mukmin mesti mengetahui bahwa apa yang tengah dialaminya adalah sebuah ujian yang memerlukan kesabaran lebih, dan bisikan-bisikan yang bergejolak di jiwanya adalah sebuah penyakit yang harus diobati.
Aku sendiri pernah mengalami ujian semacam itu. Suatu hari aku tertimpa suatu masalah, aku lantas berdoa dan terus menerus berdoa. Tapi ternyata keterkabulan tak jua menyapa, dan iblis pun langsung berkeliling di daerah muslihatnya.
Suatu saat Iblis membisikiku, “Kedermawanan Allah tak terbatas dan kekikiran bukan merupakan sifat-Nya. Kalau begitu, tertundanya pengabulan doa tak mengandung nilai apa pun!”
Enyahlah, Iblis terlaknat!’ bentakku. “Aku tak membutuhkan pengadu domba dan aku tak pernah memintamu menjadi penasihatku!”
Setelah itu aku menasihati jiwaku, “Jangan sekali-kali kamu mengiyakan bisikan-bisikan Iblis! Karena, andaikata hikmah yang terkandung dalam keterlambatan terkabulnya doa hanya supaya kamu memerangi musuhmu, maka itu adalah hikmah yang besar.”
Maka ia bertanya, “Kalau begitu, jelaskanlah padaku mengapa doa tidak segera dikabulkan dalam kasus seperti ini?”
Aku pun memberikan jawaban berikut ini:
Pertama, telah jelas berdasarkan dalil yang kuat, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah pemilik, dan seorang pemilik berhak memberikan atau tidak memberikan apa-apa yang dimilikinya. Oleh karena itu, memprotesnya adalah suatu tindakan yang tak punya alasan, walau cuma sedikit.
Kedua, telah pasti berdasarkan dalil-dalil yang tegas, kebijaksanaan Allah, mungkin kamu melihat sesuatu sebagai hal yang baik, tapi kebijaksanaan Allah justru melihatnya dengan penglihatan berbeda. Beberapa tindakan dokter terlihat mengandung bahaya bila dilihat dari luar, padahal tujuannya adalah kesembuhan dan sangat mungkin keterlambatan terkabulnya doa sama dengan tindakan dokter ini.
Ketiga, keterlambatan terkabulnya doa bisa jadi malah merupakan kebaikan, sedangkan terkabulnya doa secara cepat justru merupakan keburukan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pun telah bersabda, “Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selagi ia tak terburu-buru dengan mengatakan, ‘Saya telah berdoa tapi belum juga dikabulkan’.”
Keempat, tidak dikabulkannya suatu doa mungkin disebabkan cacat yang ada pada dirimu. Mungkin makananmu mengandung barang syubhat, mungkin hatimu lalai saat berdoa, atau mungkin ini merupakan hukuman untukmu karena dosa yang tidak kau sesali dengan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, selidikilah apa-apa yang telah kusebutkan, mudah-mudahan engkau bisa menemukannya.
Suatu hari seorang pria Ajam masuk ke rumah Abu Yazid rahimahullah, beberapa saat kemudian ia pulang dan melihatnya. Abi Yazid berdiri di pintu dan menyuruh salah seorang muridnya masuk untuk mengambil tanah yang baru menempel di dalamnya. Tiba-tiba orang Ajam itu bangkit dan pergi, Abu Yazid rahimahullah ditanya tentang masalah ini, maka ia menjawab, “Tanah ini berasal dari sumber yang tidak jelas halal-haramny dan ketika barang syubhat itu telah hilang, maka orang Ajam itu pun ikut pergi.”
Suatu saat Ibrahim bin Khawwash rahimahullah keluar rumah untuk mengingkari sebuah kemungkinan. Aneh, anjingnya justru menggonggonginya dan menghalanginya. Ibrahim kembali pulang, masuk masjid dan mengerjakan shalat, lalu keluar lagi. Ajaib, kali ini anjingnya malah mengipas-ipaskan ekornya seolah memberi dukungan kepadanya.
Kelima, engkau seyogianya meneliti ulang tujuanmu meminta apa yang kau pinta. Bisa jadi terkabulnya doamu justru akan menambah dosamu, atau menunda waktu kenaikan kedudukanmu dalam kebaikan sehingga ketidakterkabulan doamu malah lebih baik untukmu.
Pada zaman dahulu seorang ulama salaf pernah berdoa kepada Allah agar diberi kesempatan berperang. Tiba-tiba sebuah suara tanpa rupa meneriakinya, “Jika kamu berperang kamu akan ditawan, dan jika kamu ditawan kamu akan dimurtadkan.”
Keenam, ketiadaan apa yang kau inginkan sangat mungkin akan membuatmu mengiba dan memohon belas kasih di pintu Tuhanmu, sedangkan terkabulnya doa bisa jadi akan membuat lupa pada Dzat yang kamu minta. Ini adalah sesuatu yang kasat mata, sebab kalau bukan karena musibah ini tentu kami tak pernah melihatmu ada di pintu pengibaan. Allah ‘Azza wa Jalla telah mengetahui bahwa makhluk-makhluk-Nya sering kali melupakan-Nya bila Dia memberikan kebaikan kepadanya.
Karena itu, sesekali Dia memberi cobaan pada mereka di sela-sela kenikmatan-kenikmatan yang diberikan-Nya supaya mereka terdorong mendekat ke pintu-Nya guna meminta pertolongan-Nya. Dengan demikian, ini termasuk karunia meski dalam bentuk bencana, dan bencana yang sesungguhnya adalah sesuatu yang membuat seseorang melupakan-Nya, sedang sesuatu yang bisa memberdirikanmu di hadapan-Nya adalah murni kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu.
Jika anda merenungkan dengan sungguh-sungguh keterangan-keterangan di atas, Anda pasti akan mengabaikan kegagalanmu memperoleh keinginanmu dan menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat untukmu. Misalnya membuang jauh-jauh kelemahanmu, meminta ampun atas kesalahan-kesalahanmu serta berdiri mengiba di pintu Raja seluruh raja. [ ]
Sumber : Kitab Shaid Al-Khatir Nasihat Bijak Penyegar Iman, Ibnu Al Jauzi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar